Iklan Header

Menyerahnya jepang kepada sekutu dipandang sebagai waktu yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan. Apa alasannya?

perisitwa-proklamasi-kemerdekaan-indonesia

Perjuangan dari Belanda ke Jepang

8 Maret 1942, perjuangan para Ulama dan santri di tanah air Indonesia, dalam rangka membangkitkan jiwa nasionalisme semakin kuat membebaskan penjajahan Kerajaan Protestan Belanda. Namun, ternyata Allah SWT menakdirkan Indonesia saat itu belum merdeka.


Imperialis Timur Balatentara Dai Nippon, Kekaisaran Shinto Jepang, menuntut para Ulama, santri dan segenap masyarakat Indonesia untuk berjuang sekali lagi dalam rangka menghilangkan segala bentuk penjajahan di bumi Nusantara. Tidak begitu lama.


Perjuangan yang dipimpin oleh Ulama yang istiqomah akhirnya mencapai titik temu pada tanggal 9 Ramadhan 1364, Jum'at Legi, 17 Agustus 1945. Berakhirlah penjajahan politik Barat dan Timur di Indonesia.


Tanda-Tanda Kekalahan Jepang atas Sekutu

Berita kekalahan bala tentara Jepang di Samudra Pasifik dan Asia Tenggara sudah diketahui oleh rakyat Indonesia. Mulai dari jatuhnya Saipan, 15 Juni 1944, diikuti tenggelamnya kapal tempur Yamat (di dekat ibu kota Tokyo), 6 April 1945, sehingga Tokyo semakin mudah untuk diserang.


Menyerahnya Jerman kepada Sekutu, 7 Mei 1945, menjadi titik balik peperangan di Asia Timur Raya dan Perang Pasifik. Maka Amerika Serikat menjatuhkan bom atom ke kota Hirosima, 6 Agustus 1945. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Rusia yang menyatakan perang terhadap Jepang, dan 8 Agustus 1945 menduduki Manchuria, disusul kota Nagasaki juga di bom atom oleh Amerika, 9 Agustus 1945.


Jendral Terauchi yang ditugaskan di Asia Tenggara juga kesulitan ketika Rangoon jatuh ke tangan Sekutu, Mei 1945. Jendral Terauchi di Dalat mengundang Bung Karno, Bung Hatta dan Dr. Radjiman Wedijodiningrat, pada 10 Agustus 1945.


Di Dalat, Bung Karno melaporkan susunan Dokuritsu Zyunbi Iinkai (Panitia Persiapan Kemerdekaan) yang dibentuk pada 7 Agustus 1945, Selasa Legi, 28 Sya'ban 1364.


Terdiri atas : 12 wakil dari Pulau Jawa, 3 wakil dari Sumatra, 2 wakil Sulawesi, 1 wakil Kalimantan, 1 wakil dari Nusa Tenggara, 1 wakil dari Maluku, 1 wakil dari golongan Cina.


Kekalahan balatentara Jepang di seluruh fron dan dampak 2 bom pemusnah Amerika Serikat diledakkan di Hirosima dan Nagasaki, menjadikan Kaisar Hirohito pada tanggal 14 Agustus 1945 menyatakan menyerah kepada Sekutu.


Menyerahnya Jepang kepada Sekutu dipandang sebagai waktu yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan karena Indonesia dalam kondisi vacuum of power.

Pra Proklamasi

Setelah ada tanda-tanda kekalahan Jepang atas Sekutu di Perang Dunia II. Bung Karno mendatangi beberapa Ulama dalam negeri.


Sebut saja Syekh Moesa, seorang Ulama Mukasyafah yang berusia 80 tahun di Sukanegara, Cianjur Selatan. Bagitu juga Ulama dari Madiun, K.H. Abdoel Moekti pimpinan Perserikatan Muhammadiyah Madiun juga didatangi oleh Soekarno.


Soekarno juga didukung oleh Ulama dari Pesantren Tebuireng Jombang, Choedatoes Syekh Rais Akbar K.H. Hasyim Asy'ari. Selain itu, Soekarno juga menugaskan Dr. R. Soeharto untuk menghadap Drs. Sosrokartono (kakak R.A Kartini), "paranormal" yang menginstruksikan tidak perlu takut untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.


Penculikan ke Rengasdengklok

Sejak kedatangan Jepang di Indonesia, muncul gerakan bawah tanah anti Jepang. Yaitu M. Natsir dan Syafruddin Prawiranegara sebagai kelompok intelektual Islam tergolong pelaku gerakan bawah tanah anti Jepang. Ada juga Wikana dari golongan komunis anti Jepang. Bisa dikatakan terdapat dua kelompok besar saat itu, yaitu kelompok anti Jepang dari Tentara Peta dengan sebutan gerombolan Sukarni, dan pemuda komunis disebut gerombolan Wikana.


Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta, bersama ibu Fatmawati serta Guntur yang masih bayi, pada 15 Agustus 1945 ke Rengasdengklok oleh Sukarni (disebut golongan muda, sedangkan Soekarno-Hatta golongan tua). Penculikan dipimpin oleh Wikana dan Chaerul Saleh, dilaksanakan oleh Tentara Peta dimpimpin oleh Sukarni.


Selama ditawan di rumah seorang Cina bernama I Song, Bung Karno dan Bung Hatta ternyata sama sekali tidak diajak berunding atau pembicaraan lain.


Pada keesokan harinya, datanglah Mr. Achmad Subardjo menjemput Bung Karno-Hatta dari Rengasdengklok ke Jakarta.


Perundingan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945

Malam menjelang 17 Agustus 1945, sebenarnya Bung Karno-Hatta mendapat halangan dari Jendral Nishimura dalam perumusan teks proklamasi, tapi bisa diredam. Saat itu Bung Karno-Hatta malah dibantu oleh Laksamana Maeda dari Angkatan Laut Jepang.


Di rumah Laksamana Maeda, dirumuskan naskah proklamasi pukul 03.00 WIB waktu sahur bulan Ramadhan. Laksamana Muda Maeda merupakan tentara Jepang yang bersimpati dengan perjuangan rakyat Indonesia. Oleh karena itu, Laksamana Muda Maeda mempersilakan rumahnya untuk dijadikan tempat dalam perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan alasan dipastikan bahwa rumahnya tidak akan digeledah oleh Jepang. Sebagai tuan rumah, Maeda hanya menyediakan fasilitas rumahnya sebagai tempat penyusunan teks proklamasi. Sementara itu, ia sendiri tidak turut campur di dalamnya.


Setelah selesai, awalnya teks proklamasi ditawarkan agar seluruh yang hadir ikut serta perundingan teks proklamasi untuk menandatanganinya. Sebagaimana Proklamasi Kemerdekaan Amerika Serikat.


Akan tetapi, saat itu Sajoeti Melik mengusulkan penandatanganan teks proklamasi hanya Bung Karno dan Bung Hatta, setelah teks itu diketik olehnya. Saran itupun diterima.


Teks proklamasi yang dinilai sebagai fakta sejarah yang otentik adalah yang diketik oleh Sajoeti Melik dan telah ditandatangani oleh kedua Proklamator Soekarno-Hatta, dengan atas nama bangsa Indonesia.

Pembuatan naskah proklamasi selesai pada jam 5 pagi, para saksi penulisan teks proklamasi meninggalkan rumah Laksamana Maeda. Sekitar jam 7, rakyat sudah berkumpul dengan bersenjata bambu runcingg dan senjata tajam lainnya, menunggu dibacakannya Teks Proklamasi di depan rumah kediaman Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.


Gamisun Tentara Pembela Tanah Air (PETA), sejumlah 70 prajurit, dan 5 Perwira, siap menghadapi segala kemungkinan, kalau Balatentara Jepang mencoba menggagalkannya. Oleh karena itu, ditutuplah jalan yang menuju Pegangsaan Timur 56.


Detik-Detik Pembacaan Teks Proklamasi

Tepat pukul 10.00 pagi, 17 Agustus 1945, Jumat Legi, 9 Ramadhan 1364, dibacakan Teks Proklamasi oleh Bung Karno, dihadapan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan rakyat, di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta (sebagai tempat, dimana teks proklamasi dibacakan).


Bendera Merah Putih hasil penyambungannya dengan mesin jahit tangan oleh Ibu Fatmawati, dan dikibarkan di tiang bambu oleh Chudancho Latief Hendraningrat yang berseragam PETA. Kemudian diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.


Setelah selesai dibacakan, Bung Karno menjelaskan ada seorang mahasiswa menggunakan roneo milik Jepang, memperbanyak teks proklamasi. Kemudian disebarkan ke seluruh penjuru kota Jakarta. Terutama di tempelkan pada media transportasi umum kereta api, trem, dan kendaraan lainnya.

Disebarkan lewat Radio

Berita pembacaan teks proklamasi itu pun sampai ke Bandung, kemudian disiarkan melalui Pemancar Radio Malabar, sebuah pemancar yang berkekuatan tinggi dan mampu tersiar keluar negeri oleh Sakti Alamsyah, Sam Amir, Darja, hingga dapar didengar di luar negeri.


Mahasiswa Indonesia di Baghdad yang pertama mendengar adalah Imron Royadi, S.H. Kemudian berita itupun disebarkan ke mahasiswa-mahasiswa di Mesir. Akibatnya, Muhammad Abdul Mounim (Konsul Jenderal Mesit di Bombay), yang bertindak atas nama Raja Farouk dari Mesir, menyampaikan keputuasan Dewan Gabungan Negara-Negara Arab berisikan anjuran pada negara-negara anggota gabungan Liga Arab untuk mengakui Republik Indonesia.


Negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI adalah Mesir. Pengakuan Mesir itu disampaiakn kepada Presiden Soekarno di Yogyakarta pada 14 Maret 1947. Kemudian diikuti Lebanon pada Juni 1947, Suriah dan Irak pada Juli 1947, Afghanistan pada September 1947, dan menyusul Arab Saudi pada November 1947.


Fakta menyatakan, Kemerdekaan Indonesia pertama diakui oleh negara-negara Timur Tengah. Sebaliknya, sampai tahun 1947 tidak ada satupun negara-negara penjajah Eropa Barat atau dari negari komunis Eropa Timur yang bersedia mengakui kemerdekaan Indonesia. Bahkan, Kerajaan Protestan Belanda baru mengakui NKRI setelah ulang tahunnya yang ke-60 Republik Indonesia.


Previous Next

CLOSE ADS
CLOSE ADS

Post a Comment