Iklan Header

Memasuki abad ke-13 islam mulai mencapai masa keemasan yaitu ditandai dengan berbagai hal yang luar biasa. Tanda-tanda dan peristiwa-peristiwa besar apa sajakah itu? Masa keemasan Islam dilihat dari sejarah dunia dan juga sejarah Nasional Indonesia. Mulai dari akhir Perang Salib, Pasukan Mongol, hingga Islam berkembang di Indonesia. Benarkah anak Keturunan Genghis Khan berdakwah ke Indonesia? dan Benarkah Kerajaan Majapahit runtuh karena Kesultanan Demak? Bisa kamu baca lebih lengkap di bawah ya.



Perkembangan Islam Abad ke-13 di Dunia

Pada awal abad ke-13, diawali adanya Perang Salib ke-4, 1206 M, dimana Tentara Salib menaklukkan dan menggasak Konstantinopel dan mencemarkan gereja-gereja. Tujuan awal Perang Salib ini sebenarnya adalah ke Yerusalem daerah yang dikuasai oleh Salahudin Al-Ayubi (Saladin). Tapi, pasukan Salib hanya sampai ke Konstantinopel. Lalu, pada pertengahan abad ke-13, seluruh dorongan Perang Salib telah melemah di Eropa dan pada akhirnya berhenti.


Saat terjadi Perang Salib, menurut Thomas W. Arnold (dalam Suryanegara), umat Islam berhasil mengalahkan Salib dalam pertempuran di Tripoli, 1289 M dan Acre, 1291 M. Menurut Crane Brinton (dalam Suryanegara) pasukan Kristen menelan korban sejumlah 60.000 orang.


Abad ke-13 ini pula, ada sebuah invasi bangsa Mongol di bawah pimpinan anak Genghis Khan, yaitu Hulagu. Invasi ini dilakukan bangsa Mongol ke Baghdad pada tahun 656 H/ 3 Februari 1258 M. Dampak dari serangan Mongol ini, akhirnya menjadikan Dinasti Genghis Khan memeluk agama Islam.


Walaupun dalam meruntuhkan Baghdad, Hulagu Khan berkerja sama dengan raja Kristen dari Armenia, Hayton, namun Hulagu Khan tidak beralih agama dari Syamanisme ke Kristen. Dinasti Hulagu Khan disebut Dinasti Ilkhan. Dinasti inilah yang beralih agama dari Syamanisme dan Kristen menjadi agama Islam.


Saat itu, dengan kondisi Kesultanan Turki yang sangat kuat, dan pengaruh Dinasti Genghis Khan lainnya sudah masuk Islam, maka tidak mengherankan jika Kubilai Khan, 1260-1294 M, menaruh perhatian pada Islam.


Jika kita membaca sejarah, Dinasti Genghis Khan, dapat dikatakan hampir seluruhnya menjadikan agama Islam sebagai agama resmi di wilayah kekuasaannya, termasuk di Persia, Siberia, India, bahkan Cina.


Di Cina, satu tahun setelah penyerangan Hulagu ke Baghdad, 1259 M, Dinasti Kubilai Khan di Cina, mengangkat Gubernur Yunan bersama Umar Syamsudin. Selanjutnya, Dinasti Kubilai Khan yang disebut Dinasti Yuan di Cina pada 1279, pengaruh Islam di Cina begitu besar.


Ada suatu pertanyaan yang mengganjal, "Apakah maksud sebenarnya Kubilai Khan mengutus utusannya ke Kartanegara, Raja Kerajaan Hindu Buddha Singasari, pada tahun 1289 M? Mungkinkah dalam rangka dakwah Islam?"


Dan Mengapa Kubilai Khan tidak mengirim utusan ke Kesultana Samodra Pasai yang didirikan pada 1275 M? Apakah karena Kesultanan Samodra Pasai sudah Islam?"

Dengan memperhatikan sejarah Mongol di atas, Mungkinkah Islam masuk ke Nusantara Indonesia berasal dari Cina yang dibawa oleh para wirausahawan Cina atau Mongol? Bukankah di Cina berkembang keyakinan bahwa agama Islam masuk ke Cina dibawa oleh Paman Rasulullah SAW. Mengapa di makam Wali Songo terdapat pula makam orang-orang Cina Islam?


Perkembangan Islam di Nusantara Abad ke-13

Pengaruh posisi silang geografis Nusantara Indonesia yang terletak di antara pengaruh ajaran Islam dari : Khulafaur Rasyidin, Khilafah Umayah, Abbasiyah, Fatimiyah, Kesultanan Turki, Kesultanan Mongol atau Moghul di India, serta peran umat Islam di Cina, tidak mungkin menjadikan wilayah Nusantara sebagai Negara yang Tertutup (isolated country), seperti Jepang. Sehingga, dengan letak geografisnya, Indonesia menjadi wilayah terbuka terhadap kehadiran budaya asing.


Jika kita perhatikan dengan seksama, Kesultanan Samodra Pasai di Sumatra didirikan pada tahun 1275 M, sedangkan Kerajaan Hindu Majapahit berdiri tahun 1294 M (menurut Prof. H. Mohammad Yamin). Dengan kata lain terjadi selisih waktu 19 tahun, Kerajaan Samodra Pasai berdiri lebih dahulu.


Jadi, apakah benar bahwa agama Islam baru masuk ke Nusantara sesudah runtuhnya Kerajaan Hindu Majapahit tahun 1478 M?

Sejarawan Belanda seolah membuat periodisasi sejarah Indonesia, dengan memundurkan waktu masuknya Islam yang jauh ke belakang sesudah runtuhnya Kerajaan Hindu Majapahit.


Adanya pemunduran periodisasi tersebut, maka menjadikan Islam baru dibicarakan setelah Kerajaan Hindu Majapahit runtuh pada 1478 M. Runtuhnya Kerajaan Hindu Majapahit juga dituliskan karena serangan dari Kerajaan Islam Demak yang dipimpin oleh Panembahan Fatah. Mengapa ada penulisan sejarah seperti itu?


Jawabannya bisa dilihat dari penuturan N.A. Baloch (dalam Suryanegara) bahwa strategi pemerintah kolonial Belanda adalah anti Islam dan bermotivasi divide and rule atau pecah belah untuk dikuasai melalui salah satunya penulisan sejarah.


Oleh sebab itu, Suryanegara menambahkan bahwa dalam penulisan sejarah Indonesia bertolak dari pandangan Hindu Sentrisme atau dari Neerlando Sentrisme. Lebih mengutamakan sejarah Hindu Buddha atau sejarah Belanda di Indonesia. Islam yang dijadikan dasar gerakan perlawanan terhadap penjajah Protestan Belanda, dinegatifkan analisis sejarahnya.


Maka berhati-hatilah dengan sejarah yang kita baca, jangan hanya ditelah mentah-mentah. Perlu ada studi pustaka yang jelas berdasarkan fakta-fakta yang ada, entah dari buku atau peninggalan yang lain.


Di Indonesia, tersebar sebuah dongeng bahkan sampai saat ini, bahwa runtuhnya Kerajaan Hindu Majapahit akibat invasi dari Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Sultan Fatah. Dongeng ini tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.


Kita telah dikisahkan dengan dongeng bahwa Keruntuhan Kerajaan Hindu Majapahit akibat serangan Kesultanan Demak pada 1400 Saka atau 1478 M. Akibat serang itu, maka Sang Prabu mengutuk Sunan Fatah dari Kesultanan Demak sebagai putra yang tidak tahu hormat kepada orang tuanya. Kemudian, Sang Prabu terbang ke langit. Ketika Laskar Demak memenuhi halaman Kraton Majapahit, dalam dongeng tersebut dikatakan sinar matahari terkalahkan oleh kilauan cahaya ribuan pedang laskar Demak.


Kisah tersebut, dimanfaatkan oleh sejarawan Belanda untuk menguatkan teori dan analisis sejarahnya bahwa Islam di Nusantara dikembangkan dengan pedang. Yang berarti dikembangkan dengan pamaksaan dan penindasan. Padahal, tidak seperti itu. John Crawford, 1820 M, dalam bukunya History of Indian Archipelago bisa menjawab, bahwa Islam tidak datang sebagai penakluk sebagaimana bangsa Spanyol membantai penduduk asli untuk penjajahan.


Realitas yang terjadi, Kerajaan Hindu Majapahit runtuh karena serangan raja Girindrawardana dari Kerajaan Hindu Kediri pada tahun 1478 M. Serangan tersebut sebagai serangan balasan terhadap serangan Wijaya (sebagai pendiri Kerajaan Hindu Majapahit), yang menyerang Kerajaan Hindu Kediri pada saat masih dipimpin oleh Raja Prabu Jayakatwang, 1292 M.


Serangan Wijaya tersebut memanfaatkan tentara dari Kubilai Khan yang datang ke Nusantara dengan tujuan menyerang Raja Kartanegara yang memotong telingan utusannya, Meng Ki.


Jika kita baca sejarah di buku pelajaran, hanya menceritakan tentara Kubilai Khan datang dengan sia-sia, sebab saat itu Raja Kartanegara sudah tidak berkuasa lagi. Namun, pada kenyataannya, Pasukan Kubilai Khan yang datang ke Nusantara untuk balas dendam dimanfaatkan oleh Wijaya untuk menyerang Kerajaan Kediri (Raja Jayakatwang), hingga Kerajaan Kediri lumpuh.


Namun, setelah 200 tahun kemudian, pada abad ke-15 atau 1478 M, Kerajaan Hindu Kediri di bawah Girindrawardana menyerang balik dengan tujuan balas dendam atas pendiri Kerajaan Majapahit (Wijaya). Maka, runtuhlah Kerajaan Hindu Majapahit tahun 1478 M.


Munculnya dongeng tersebut dikarenakan politik divide and rule (politik memecah belah untuk penguasaan) yang dikarang oleh imperialisme Barat. Dengan tujuan supaya hubungan antara penganut Hindu, Buddha dengan Islam retak.


Perkembangan Mazhab Syafi'i di Indonesia

Sebagaimana kita ketahui, bahwa di Indonesia berkembangan pesat Mazhab Syafi'i oleh Imam al-Syafi'i dari Mekah. Perkembangan Mazhab Syafi'i di Indonesia dapat dibaca dari berita wisata Ibnu Batutah ke Kesultanan Samodra Pasai.


Ibnu Batutah adalah seorang muslim Maroko yang pernah mengunjungi Samodra Pasai pada tahun 745-746 H/ 1345 M. Beliau menjelaskan bahwa saat itu Kesultanan Samodra Pasai berkembang mazhab Syafi'i, berbeda dengan perkembangan islam di Gujarat yang bermazhab Syi'ah.


Pendapat Ibnu Batutah ini bisa menjadi dasar untuk menyanggah Teori Gujarat oleh Snouck Hurgronje, yang menyatakan Islam di Indonesia berasal dari Gujarat yang bermazhab Syi'ah, sedangkan Kerajaan Islam pertama Indonesia bermazhab Syafi'i.


Kebangkitan Kekuasaan Politik Islam Indonesia Abad ke-13

Jika kamu membaca buku sejarah pada umumnya, menyebutkan bahwa kekuasaan politik Islam (Kesultanan di Indonesia), terjadi setelah runtuhnya Kerajaan Hindu Majapahit.


Akan tetapi, melihat tahun berdirinya kerajaan Hindu Majapahit dengan Kesultanan Islam, malah lebih dahulu perkembangan Islam. Contohnya seperti, Kerajaan Hindu Majapahit berdiri tahun 1294 M, sedangkan Kesultanan Samodra Pasai sudah ada sejak tahun 1275 M (19 tahun lebih dulu).


Memasuki abad ke-13 islam mulai mencapai masa keemasan yaitu ditandai dengan kejayaan kerajaan-kerajaan bercorak Islam. Agama Islam menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara Indonesia. Berbagai kerajaan Islam yang besar kala itu seperti Kerajaan Samodra Pasai, Kerajaan Aceh, Kerajaan Demak, Kerajaan Mataram Islam, Kerajaan Banten, Kerajaan Makassar (Goa-Tallo), dan lainnya.


Toleransi Masuknya Islam di Indonesia

Masuknya Islam ke Indonesia sama sekali tidak menggunakan pemaksaan apalagi dengan pedang. Jika ada buku bacaan yang menyatakan Islam dengan pedang, karena sejarawan Barat sudah membuat dongeng khususnya Kerajaan Demak yang menyerang Kerajaan Majapahit.


Kita bisa mempelajari sejarah yang ditulis oleh John Crawford, 1820 M, dalam bukunya History of Indian Archipelago (dalam Suryanegara).


Beliau menuliskan bahwa para wisatawan Muslim tidak datang sebagai penakluk seperti bangsa Spanyol pada abad ke-16 M. Pendatang Muslim tidak menggunakan pedang dalam dakwahnya. Juga tidak memiliki hak untuk melakukan penindasan terhadap rakyat bawahnya. Para da'i hanya sebagai wiraswasta yang memanfaatkan kecerdasan dan peradaban mereka yang lebih tinggi untuk kepentingan dakwanya. Harta perniagaannya lebih mereka utamakan sebagai modal dakwah daripada untuk memperkaya diri.


Selain itu, M.C. Ricklefs, 1991, dalam Sejarah Indonesia Modern (dalam Suryanegara) mengemukakan toleransi beragama di Nusantara Indonesia ditunjukkan dengan makam-makam orang Jawa Muslim yang dikuburkan di dekat situs Istana Kerajaan Hindu Majapahit.


Sumber :

Ansary, Tamim. 2017. Dari Puncak Bagdad (Sejarah Dunia versi Islam).

Suryanegara, Ahmad Mansur. 2013. Api Sejarah.

CLOSE ADS
CLOSE ADS

Post a Comment